Selamat Datang Di Website Resmi Rumah Belajar Alhamdy Cirebon

22 Desember 2025

BULLYING; DEFINISI, JENIS, PENYEBAB, DAMPAK, SERTA PENCEGAHANNYA


 BULLYING;

DEFINISI, JENIS, PENYEBAB, DAMPAK, SERTA PENCEGAHANNYA

 

A. Definisi:

Menurut American Psychological Association, pengertian bullying adalah suatu bentuk tindakan agresif yang dilakukan seseorang dengan sengaja dan berulang kali dengan tujuan untuk melukai atau mengakibatkan ketidaknyamanan pada orang lain. Bullying bisa dilakukan secara fisik, lisan, maupun cara lain yang lebih halus seperti memaksa atau memanipulasi.

Bullying adalah tindakan penindasan yang sering kali dilakukan secara berkelompok. Pada lingkungan sekolah, kelompok yang melakukan bullying cenderung merasa berkuasa dan menganggap anak lain lebih lemah dari mereka. Hal yang sama juga dapat ditemukan di lingkungan kerja dan sosial lainnya. Orang-orang dengan kekuasaan memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan penindasan.

 

B. Jenis Bullying

Terdapat beberapa jenis bullying yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sosial anak maupun orang dewasa, seperti bullying secara fisik, lisan, sosial, hingga di internet yang  biasa disebut dengan cyberbullying. Berikut penjelasan selengkapnya mengenai masing-masing jenis bullying adalah:

 

1. Bullying secara Fisik

Bullying yang dilakukan secara fisik biasanya meninggalkan bekas luka di bagian tubuh, seperti memar. Adapun beberapa contoh tindakan bullying yang dilakukan secara fisik adalah memukul, menendang, menjegal, mencubit, atau mendorong seseorang.

 

Selain melukai tubuh seseorang, perusakan barang berharga juga termasuk jenis bullying fisik yang dilakukan secara tidak langsung. Sebagai contoh, merusak mobil atau mencoret-coret tembok rumah seseorang untuk melampiaskan rasa kesal.

 

2. Bullying secara Lisan (Verbal)

Tindakan bullying juga bisa dilakukan secara lisan, seperti menghina, mengejek, dan mengolok orang lain. Meskipun tidak meninggalkan luka yang terlihat secara fisik, bullying secara lisan ini merupakan jenis pelecehan yang ditargetkan (targeted harassment) yang pada akhirnya dapat berujung pada tindakan kekerasan fisik.

Bagi sebagian orang, bullying verbal dinilai lebih berbahaya dari bullying fisik karena tipe bullying ini dapat menghancurkan harga diri dan citra diri korban. Kata-kata menyakitkan yang ditujukan untuk korban bisa membekas di hati dalam waktu yang lama dan memengaruhi kesehatan jiwa nya.

 

3. Bullying secara Sosial

Bullying yang dilakukan secara sosial biasanya tidak mudah dideteksi. Maka dari itu, jenis bullying ini sering dikenal sebagai penindasan terselubung (covert bullying). Tujuannya adalah untuk merusak reputasi seseorang dalam lingkungan sosial. Adapun contoh-contoh bullying secara sosial adalah:

 

·         Menyebarkan kebohongan atau gosip tentang seseorang.

·         Melontarkan lelucon untuk mempermalukan dan menghina orang lain.

·         Mendorong orang lain di sekitar untuk mengucilkan seseorang.

·         Tatapan sinis yang ditujukan untuk mengintimidasi secara halus.

 

4. Bullying di Internet (Cyberbullying)

Cyberbullying adalah bentuk tindakan agresif yang ditujukan kepada seseorang melalui teknologi digital. Umumnya, cyberbullying terjadi di media sosial, game online, dan platform lain yang menyediakan kolom interaksi. Bullying di sini tidak dilakukan dengan tatap muka, melainkan secara virtual atau online. Adapun contoh dari cyberbullying adalah:

 

Ø  Mengirimkan teks, email, gambar, atau video yang isinya mengejek, mengancam, bernada kasar, berbau seksual, dan agresif.

Ø  Mengucilkan seseorang dalam lingkup pertemanan online dengan sengaja.

Ø  Menyebarkan kebohongan atau aib tentang seseorang di media sosial.

Ø  Meniru orang lain dengan menggunakan foto dan informasi pribadi mereka.

 

C.   Penyebab

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan bullying. Seseorang bisa menjadi pembully biasanya karena memiliki alasan-alasan berikut: 

  • Merasa tidak senang jika ada orang yang lebih dari dirinya, baik dalam segi kesuksesan maupun popularitas 
  • Tidak ingin dirinya terlihat lemah
  • Merasa dirinya berkuasa atau selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkan
  • Tidak memiliki empati
  • Tinggal di rumah atau lingkungan yang menganggap bullying sebagai hal wajar
  • Menyalahgunakan kedudukan untuk menindas orang yang dianggap tidak setara posisinya
  • Memiliki gangguan perilaku, seperti kepribadian antisosial atau borderline personality disorder

 

D.   Dampak Bullying

Perundungan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, berdampak buruk pada korban maupun pelakunya. Pada korban, dampak bullying bisa berupa:

  • Sendirian karena dikucilkan
  • Gangguan kecemasan 
  • Depresi
  • Perubahan pola tidur dan makan
  • Hilang minat terhadap kegiatan yang mereka gemari
  • Sering sakit
  • Kesulitan mengikuti pelajaran hingga prestasi menurun
  • Tidak mau sekolah
  • Produktivitas kerja menurun
  • Post-traumatic stress disorder 
  • Percobaan bunuh diri

Sementara pada pelaku, bullying bisa menimbulkan dampak negatif, seperti:

  • Kecanduan alkohol
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau NAPZA
  • Putus sekolah, sering berkelahi, sampai merusak properti
  • Sulit menjalin hubungan sosial yang sehat
  • Terlibat dalam perilaku kriminal atau terjerat masalah hukum
  • Risiko melakukan kekerasan terhadap keluarga, pasangan, atau anak-anak mereka ketika dewasa

 

E.   Cara Pencegahan Bullying

Penanganan bullying dapat ditujukan kepada korban maupun pelakunya. Korban perlu mendapatkan bantuan agar bisa pulih, baik secara fisik maupun mental. Sementara itu, pelaku bullying juga perlu diarahkan melalui konseling dan pendampingan supaya bisa memahami kesalahannya dan tidak mengulangi tindakan bullying.

 

Penanganan untuk korban bullying

Cara mengatasi bullying pada korbannya akan disesuaikan dengan dampak yang ditimbulkan. Jika korban mengalami cedera atau luka-luka, dokter dapat memberikan obat tertentu untuk meredakan keluhan. Agar hasil pengobatan maksimal, obat-obat tersebut harus digunakan sesuai dengan aturan pakai dan saran dokter.

Korban bullying, terutama yang sudah lama mengalaminya, juga akan disarankan untuk menjalani psikoterapi. Hal ini untuk mengatasi depresi atau gangguan kecemasan yang biasanya dialami oleh korban. 

Psikoterapi bertujuan untuk mengubah pola pikir pasien yang negatif, baik terhadap diri maupun kehidupannya, agar lebih positif. Ada banyak cara mengatasi bullying dengan psikoterapi, salah satunya adalah terapi perilaku kognitif.

Pasien mungkin akan diminta untuk kontrol setidaknya 1 bulan sekali. Tujuannya adalah agar dokter bisa memantau perkembangan kondisi pasien dan memastikannya sudah membaik.

Penanganan untuk pelaku bullying

Pelaku bullying perlu diberi bimbingan, konseling, atau terapi perilaku agar pola pikir, empati, dan kemampuannya untuk mengendalikan emosi bisa berkembang. Jika pelaku memiliki gangguan mental tertentu, pengobatan medis atau pemantauan dari psikiater maupun psikolog sangat penting untuk mencegah perilaku bullying berulang.

Beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi perilaku pelaku bullying adalah:

  • Mencari tahu alasan seseorang menjadi perundung, misalnya akibat trauma, kecemasan, rendahnya kepercayaan diri, atau gangguan mental tertentu
  • Memberikan pemahaman kepada pelaku tentang dampak negatif bullying, seperti sanksi sosial, hukum, atau masalah pada masa depan
  • Mengajarkan nilai perbedaan dan penghargaan terhadap orang lain, seperti keragaman penampilan, kondisi fisik, maupun status sosial
  • Melatih pelaku untuk memahami perasaan orang lain atau memiliki empati
  • Meminta bantuan psikolog atau psikiater untuk melakukan konseling atau terapi perilaku kognitif, agar pelaku mampu mengubah pola pikir negatif menjadi lebih sehat
  • Memberikan sanksi yang konsisten dan mendidik sesuai lingkungan, misalnya penerapan disiplin di sekolah atau tempat kerja
  • Bekerja sama dengan orang tua, guru, maupun rekan kerja, untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perbaikan perilaku pelaku bullying

Tidak ada komentar:

Posting Komentar