DEFINISI,
JENIS, PENYEBAB, DAMPAK, SERTA PENCEGAHANNYA
A.
Definisi:
Menurut
American Psychological Association, pengertian bullying adalah suatu
bentuk tindakan agresif yang dilakukan seseorang dengan sengaja dan berulang
kali dengan tujuan untuk melukai atau mengakibatkan ketidaknyamanan pada orang
lain. Bullying bisa dilakukan secara fisik, lisan, maupun cara lain yang lebih
halus seperti memaksa atau memanipulasi.
Bullying
adalah tindakan penindasan yang sering kali dilakukan secara berkelompok. Pada
lingkungan sekolah, kelompok yang melakukan bullying cenderung merasa berkuasa
dan menganggap anak lain lebih lemah dari mereka. Hal yang sama juga dapat
ditemukan di lingkungan kerja dan sosial lainnya. Orang-orang dengan kekuasaan
memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan penindasan.
B.
Jenis
Bullying
Terdapat
beberapa jenis bullying yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sosial anak
maupun orang dewasa, seperti bullying secara fisik, lisan, sosial, hingga di
internet yang biasa disebut dengan cyberbullying. Berikut penjelasan
selengkapnya mengenai masing-masing jenis bullying adalah:
1. Bullying secara Fisik
Bullying
yang dilakukan secara fisik biasanya meninggalkan bekas luka di bagian tubuh,
seperti memar. Adapun beberapa contoh tindakan bullying yang dilakukan secara
fisik adalah memukul, menendang, menjegal, mencubit, atau mendorong seseorang.
Selain
melukai tubuh seseorang, perusakan barang berharga juga termasuk jenis bullying
fisik yang dilakukan secara tidak langsung. Sebagai contoh, merusak mobil atau
mencoret-coret tembok rumah seseorang untuk melampiaskan rasa kesal.
2. Bullying secara Lisan (Verbal)
Tindakan
bullying juga bisa dilakukan secara lisan, seperti menghina, mengejek, dan
mengolok orang lain. Meskipun tidak meninggalkan luka yang terlihat secara
fisik, bullying secara lisan ini merupakan jenis pelecehan yang ditargetkan
(targeted harassment) yang pada akhirnya dapat berujung pada tindakan kekerasan
fisik.
Bagi
sebagian orang, bullying verbal dinilai lebih berbahaya dari bullying fisik
karena tipe bullying ini dapat menghancurkan harga diri dan citra diri korban.
Kata-kata menyakitkan yang ditujukan untuk korban bisa membekas di hati dalam
waktu yang lama dan memengaruhi kesehatan jiwa nya.
3. Bullying secara Sosial
Bullying
yang dilakukan secara sosial biasanya tidak mudah dideteksi. Maka dari itu,
jenis bullying ini sering dikenal sebagai penindasan terselubung (covert
bullying). Tujuannya adalah untuk merusak reputasi seseorang dalam lingkungan
sosial. Adapun contoh-contoh bullying secara sosial adalah:
·
Menyebarkan
kebohongan atau gosip tentang seseorang.
·
Melontarkan lelucon
untuk mempermalukan dan menghina orang lain.
·
Mendorong orang lain
di sekitar untuk mengucilkan seseorang.
·
Tatapan sinis yang
ditujukan untuk mengintimidasi secara halus.
4. Bullying di Internet (Cyberbullying)
Cyberbullying
adalah bentuk tindakan agresif yang ditujukan kepada seseorang melalui
teknologi digital. Umumnya, cyberbullying terjadi di media sosial, game online,
dan platform lain yang menyediakan kolom interaksi. Bullying di sini tidak
dilakukan dengan tatap muka, melainkan secara virtual atau online. Adapun
contoh dari cyberbullying adalah:
Ø Mengirimkan
teks, email, gambar, atau video yang isinya mengejek, mengancam, bernada kasar,
berbau seksual, dan agresif.
Ø Mengucilkan
seseorang dalam lingkup pertemanan online dengan sengaja.
Ø Menyebarkan
kebohongan atau aib tentang seseorang di media sosial.
Ø Meniru
orang lain dengan menggunakan foto dan informasi pribadi mereka.
C. Penyebab
Ada
banyak faktor yang bisa menyebabkan bullying. Seseorang bisa menjadi pembully
biasanya karena memiliki alasan-alasan berikut:
- Merasa tidak senang jika ada orang yang lebih dari
dirinya, baik dalam segi kesuksesan maupun popularitas
- Tidak ingin dirinya terlihat lemah
- Merasa dirinya berkuasa atau selalu bisa mendapatkan
apa yang diinginkan
- Tidak memiliki empati
- Tinggal di rumah atau lingkungan yang menganggap
bullying sebagai hal wajar
- Menyalahgunakan kedudukan untuk menindas orang yang
dianggap tidak setara posisinya
- Memiliki gangguan perilaku, seperti kepribadian
antisosial atau borderline personality disorder
D. Dampak Bullying
Perundungan,
baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, berdampak buruk pada korban
maupun pelakunya. Pada korban, dampak bullying bisa berupa:
- Sendirian karena dikucilkan
- Gangguan kecemasan
- Depresi
- Perubahan pola tidur dan makan
- Hilang minat terhadap kegiatan yang mereka gemari
- Sering sakit
- Kesulitan mengikuti pelajaran hingga prestasi menurun
- Tidak mau sekolah
- Produktivitas kerja menurun
- Post-traumatic stress disorder
- Percobaan bunuh diri
Sementara
pada pelaku, bullying bisa menimbulkan dampak negatif, seperti:
- Kecanduan alkohol
- Penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau NAPZA
- Putus sekolah, sering berkelahi, sampai merusak
properti
- Sulit menjalin hubungan sosial yang sehat
- Terlibat dalam perilaku kriminal atau terjerat masalah
hukum
- Risiko melakukan kekerasan terhadap keluarga, pasangan,
atau anak-anak mereka ketika dewasa
E. Cara Pencegahan Bullying
Penanganan bullying
dapat ditujukan kepada korban maupun pelakunya. Korban perlu mendapatkan
bantuan agar bisa pulih, baik secara fisik maupun mental. Sementara itu, pelaku
bullying juga perlu diarahkan melalui konseling dan pendampingan supaya bisa
memahami kesalahannya dan tidak mengulangi tindakan bullying.
Penanganan untuk korban bullying
Cara mengatasi
bullying pada korbannya akan disesuaikan dengan dampak yang ditimbulkan. Jika
korban mengalami cedera atau luka-luka, dokter dapat memberikan obat tertentu
untuk meredakan keluhan. Agar hasil pengobatan maksimal, obat-obat tersebut
harus digunakan sesuai dengan aturan pakai dan saran dokter.
Korban bullying,
terutama yang sudah lama mengalaminya, juga akan disarankan untuk
menjalani psikoterapi. Hal ini untuk
mengatasi depresi atau gangguan kecemasan yang biasanya dialami oleh
korban.
Psikoterapi bertujuan
untuk mengubah pola pikir pasien yang negatif, baik terhadap diri maupun
kehidupannya, agar lebih positif. Ada banyak cara mengatasi bullying dengan
psikoterapi, salah satunya adalah terapi perilaku kognitif.
Pasien mungkin akan
diminta untuk kontrol setidaknya 1 bulan sekali. Tujuannya adalah agar dokter
bisa memantau perkembangan kondisi pasien dan memastikannya sudah membaik.
Penanganan untuk pelaku bullying
Pelaku bullying perlu
diberi bimbingan, konseling, atau terapi perilaku agar pola pikir, empati, dan
kemampuannya untuk mengendalikan emosi bisa berkembang. Jika pelaku memiliki
gangguan mental tertentu, pengobatan medis atau pemantauan dari psikiater
maupun psikolog sangat penting untuk mencegah perilaku bullying berulang.
Beberapa upaya yang
bisa dilakukan untuk mengatasi perilaku pelaku bullying adalah:
- Mencari
tahu alasan seseorang menjadi perundung, misalnya akibat trauma,
kecemasan, rendahnya kepercayaan diri, atau gangguan mental tertentu
- Memberikan
pemahaman kepada pelaku tentang dampak negatif bullying, seperti sanksi
sosial, hukum, atau masalah pada masa depan
- Mengajarkan
nilai perbedaan dan penghargaan terhadap orang lain, seperti keragaman
penampilan, kondisi fisik, maupun status sosial
- Melatih
pelaku untuk memahami perasaan orang lain atau memiliki empati
- Meminta
bantuan psikolog atau psikiater untuk melakukan konseling atau terapi
perilaku kognitif, agar pelaku mampu mengubah pola pikir negatif menjadi
lebih sehat
- Memberikan
sanksi yang konsisten dan mendidik sesuai lingkungan, misalnya penerapan
disiplin di sekolah atau tempat kerja
- Bekerja sama dengan orang tua, guru, maupun rekan kerja, untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perbaikan perilaku pelaku bullying

Tidak ada komentar:
Posting Komentar